Desa Sunggingan

Kec. Miri
Kab. Sragen - Jawa Tengah

Artikel

Chui Mohua:Ketika Tinta dan Tiupan Anak-anak Menghidupkan Seni Tiongkok

Administrator

15 Agustus 2026

137 Kali dibuka

Sunggingan, Miri - Kamis sore, 7 Agustus 2026, Posyandu Muji Rahayu 2 di Dukuh Pilangsari dipenuhi oleh suara anak-anak. Setelah sebelumnya mengikuti kegiatan Apoteker Cilik Literasi (APISUGI) sejak pukul dua siang, anak-anak dari RT 03, RT 04, dan RT 05 kembali berkumpul setelah jeda untuk melaksanakan shalat Ashar berjamaah. Kali ini, mereka tidak lagi diajak berbicara tentang obat dan tanaman herbal. Di atas meja, sudah tersedia kertas HVS, tinta, sedotan, cotton bud, serta cat akrilik berwarna merah dan kuning. Pukul 15.30 WIB, kegiatan dimulai dengan sesuatu yang mungkin belum pernah mereka coba sebelumnya, 吹墨画 (chuī mòhuà): membuat lukisan dengan cara meniup tinta.

Kegiatan tersebut merupakan program kerja KKN Universitas Sebelas Maret yang memperkenalkan 吹墨画 (chuī mòhuà), salah satu teknik seni lukis yang menggunakan tinta sebagai media utama. Tujuannya sederhana, yaitu mengenalkan seni dan budaya Tiongkok kepada anak-anak melalui kegiatan yang menyenangkan sekaligus melatih kreativitas mereka. Sebelum mulai membuat karya, mahasiswa KKN terlebih dahulu memperkenalkan secara singkat apa itu 吹墨画 (chuī mòhuà) dan menunjukkan cara membuatnya. Tinta diteteskan di atas kertas, kemudian ditiup menggunakan sedotan. Dari satu tetes tinta yang awalnya tampak sederhana, perlahan muncul garis-garis yang menyerupai batang dan ranting pohon.

Anak-anak kemudian mencoba sendiri. Ada yang meniup dengan hati-hati, ada yang meniup terlalu kuat hingga tinta bergerak jauh dari arah yang diinginkan, dan ada pula yang terus mencoba sampai mendapatkan bentuk ranting sesuai keinginannya. Suasana yang awalnya dipenuhi rasa penasaran berubah menjadi semakin ramai. Beberapa anak saling memperhatikan hasil karya temannya, sementara anggota KKN berkeliling membantu mereka mengatur arah dan kekuatan tiupan. Tidak ada dua karya yang benar-benar sama. Setiap ranting memiliki bentuknya sendiri, mengikuti arah tiupan dan kreativitas masing-masing anak.

Setelah bagian ranting selesai dan tinta mulai mengering, kegiatan berlanjut pada tahap yang membuat lukisan menjadi lebih hidup. Anak-anak kemudian menggunakan cat akrilik berwarna merah dan kuning untuk membuat bunga plum atau 梅花 (méihuā). Dengan bantuan cotton bud, cat diaplikasikan sedikit demi sedikit pada ranting yang telah dibuat sebelumnya. Titik-titik warna merah dan kuning perlahan berubah menjadi bunga-bunga kecil yang menghiasi ranting. Ada yang membuat bunga dalam jumlah banyak, ada yang menempatkannya hanya di beberapa bagian ranting, dan ada pula yang bereksperimen dengan susunannya sendiri. Dari tinta, tiupan, cat akrilik, dan cotton bud yang sederhana, terbentuklah lukisan pohon bunga plum yang menjadi karya masing-masing peserta.

Para anggota KKN mendampingi anak-anak sepanjang kegiatan. Dengan jumlah anggota kelompok sebanyak sembilan orang, pembagian tugas dilakukan agar setiap peserta mendapatkan bantuan ketika mengalami kesulitan. Para kader Posyandu Muji Rahayu 2 juga turut membantu mengkondisikan anak-anak selama kegiatan. Setelah sebelumnya mengikuti APISUGI dan jeda shalat Ashar, beberapa anak memang mulai kehilangan konsentrasi. Namun, ketika mereka diberikan kesempatan untuk langsung mencoba meniup tinta dan melihat hasilnya sendiri, perhatian mereka kembali tertuju pada kertas di hadapan masing-masing.

Kegiatan 吹墨画 (chuī mòhuà) ini memang sederhana. Tidak ada kanvas mahal, tidak ada peralatan melukis yang rumit, dan tidak ada teknik yang sulit dipahami. Hanya ada tinta, kertas, sedotan, cat akrilik merah dan kuning, serta cotton bud. Namun, dari bahan-bahan sederhana itu muncul sesuatu yang lebih besar: pengalaman baru dalam mengenal budaya Tiongkok sekaligus kesempatan bagi anak-anak untuk menciptakan sesuatu dengan tangan mereka sendiri.

Pada akhirnya, satu per satu karya selesai. Kertas-kertas yang sebelumnya masih kosong kini dipenuhi batang, ranting, dan bunga plum dengan bentuk dan warna yang berbeda-beda. Anak-anak dapat membawa pulang hasil karya mereka sebagai kenang-kenangan dari kegiatan KKN. Bagi sebagian anak, mungkin yang dibawa pulang hanyalah selembar kertas berisi lukisan. Tetapi di baliknya, ada pengalaman mencoba sesuatu yang baru, keberanian untuk bereksperimen, dan sedikit cerita tentang seni serta budaya Tiongkok yang mereka kenal pada sore itu.

Kegiatan berakhir pada pukul 17.00 WIB. Setelah dua kegiatan yang dilaksanakan dalam satu rangkaian hari tersebut, Posyandu Muji Rahayu 2 kembali perlahan menjadi tenang. Namun, di tangan anak-anak yang pulang membawa lukisan masing-masing, hasil kegiatan itu masih terus terbawa. 吹墨画 (chuī mòhuà) mungkin hanya berlangsung satu jam setengah, tetapi dari satu tetes tinta, tiupan sederhana, dan sentuhan warna merah serta kuning, anak-anak mendapatkan pengalaman bahwa seni dan budaya dapat dipelajari dengan cara yang menyenangkan, bahkan dari sebuah meja sederhana di Posyandu Muji Rahayu 2.

Komentar yang terbit pada artikel "Chui Mohua:Ketika Tinta dan Tiupan Anak-anak Menghidupkan Seni Tiongkok"

Kirim Komentar

Nama
Telp./HP
E-mail

Komentar

Captha

Komentar Facebook

Aparatur Desa

Kepala Desa

GUNAWAN

Sekretaris Desa

Yuniasih

Kasi Pelayanan

ARISA RAHMAWATI

Kasi Pemerintahan

TITO AJI

Kasi Kesejahteraan

BELA MUTIA SUKMA

Kaur Perencanaan

FAJAR ANDRIYANTO

Kebayan I

AZIZ IRSYADUL ARSYAD

Kebayan II

AGUS JOKO SURIPTO

Kebayan III

SLAMET WIDODO

Staff

SRI SUDADI

Kebayan IV

SUMERI

Kaur Tata Usaha Dan Umum

IKA DWI PURWANTI

Kaur Keuangan

DHIYAH NOVITASARI

Layanan Mandiri
Layanan Mandiri
Layanan Mandiri
Layanan Mandiri

Desa Sunggingan

Kecamatan Miri, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah

Galeri Video

Transparansi Anggaran

APBDes 2023 Pelaksanaan

APBDes 2023 Pendapatan

APBDes 2023 Pembelanjaan

Lokasi Kantor Desa

Latitude:-7.374846775036905
Longitude:110.8042672276497

Desa Sunggingan, Kecamatan Miri, Kabupaten Sragen - Jawa Tengah

Buka Peta

Wilayah Desa